waktu dan laut
Namaku keila. Sekarang aku sedang berlibur bersama keluargaku, sore ini aku dan keluargaku sedang menikmati sejuknya hembusan angin di pantai. Tiba tiba aku teringat dengan kejadian saat itu, tanpa aku sadari mataku mulai berkaca-kaca saat mengingat kejadian yang menimpa sahabtku yang bernama Dania. Dan kini dia sudah tiada.
“Keila!!!” Dania memanggil namaku berkali kali saat aku sedang menangis di pantai. Aku tidak menghiraukan panggilannya
“Kei, kamu kenapa nangis?” tanyanya.
“Kalung Liontin kesayanganku jatuh dilaut” kataku tersedu sedu. Aku sangat sedih karna kalung itu hadiah terakhir dari Ayahku sebelum ia meninggal dunia.
“Kamu tunggu dirumah aja, biar aku yang cari kalungnya” ucap Dania kepadaku
Dania pun segera berlari menuju laut, aku membiarkannya berenang ke laut begitu saja. Aku melihat jam tanganku dan ternyata sudah satu jam lamanya dania tak kunjung balik. Aku panik karna Dania begitu lama.
"Dan kamu kemana sih, aku khawatir" ucapku dalam hati
Karna Dania tak kunjung balik aku pun mendatangi rumahnya
"Assalamualaikum Bu, dania ada dirumah apa ngga ya?" tanyaku ke bunda Dania
"Waalaikumsalam Kei, Danianya gaada dirumah, tadi dia pamitnya sih mau ke pantai tapi sampe sekrang belum balik juga"
Akhirnya aku menceritakan kejadian yang ada dipantai tadi. Sempat hening beberapa saat hingga tak lama terdengar isak tangis dari Ibu Dania.
"Aduh gimana ya kei ini perasaan tante gaenak gini, tante takut Dania kenapa kenapa" ucap Ibu Dania sambil menangis
Mendengar Ibu Dania berbicara seperti itu pikiranku pun mulai kemana mana, aku takut terjadi hal yang buruk pada Dania. Tak lama aku pun memeluk Ibu Dania dan mencoba menenangkannya.
"Tante yang tenang ya, kita berdoa aja semoga Dania baik baik aja" ucapku
Setelah beberapa menit aku menenangkan Ibu Dania aku berpamitan dengan Ibunya.
"Tan Keila izin pamit ya, mau nyari Dania dipantai, takutnya Dania ada disana nungguin Keila" pamitku
"Tante ikut ke sana ya Kei" pinta Ibu dania.
"Iya tan" jawabku
Semakin lama hari semakin gelap, tapi Dania tak kunjung juga menunjukan batang hidungnya. Aku dan Ibunya terus menunggu dengan rasa cemas yang semakin lama semakin besar. Hingga seorang nelayan datang menghampiri kami.
“Ini neng sama Ibu ngapain malam-malam di sini?” Tanyanya sang nelayan dengan kebingungan
“Bapak mau melaut ya? Boleh minta tolong cariin temen saya, dari sore tadi dia belum balik Pak." Jawabku dengan cemas
"Iya neng, nanti saya cariin" jawab Bapak itu
Kami disuruh menunggu, akhirnya aku memutuskan untuk menginap dirumah dania.
Hari sudah berganti dan waktu menunjukan pukul enam pagi. Kemarin malam aku dan Ibu Dania tidak bisa tidur karna memikirkan Dania. Saat aku sedang melamun tiba tiba terdengar suara dari depan rumah. Aku dan Ibu Dania pun buru buru membuka pintu rumah.
"Assalamualaikum neng, ini Bapak nelayan yg kemarin"
"Waalaikumsalam Pak, gimana Pak Danianya ketemu?" tanyaku
“Maaf neng, ini temennya kemarin malam waktu saya temuin udah mengambang di air.” Bapak itu berkata dengan nada sedih
Aku sangat terkejut, bukan kabar seperti ini yang aku tunggu pagi ini. Sahabatku menjadi seperti ini karena aku. Aku menyesal karna tidak melarangnya pergi saat itu. Aku pun menangis sejadi jadinya. Kulihat Ibu Dania tampak sangat terpukul setelah mendengar kabar tadi, aku pun memeluk Ibu Dania sambil mengcapkan kata maaf berkali kali
"Tante maafin Kei ya, gara gara Kei Dania jadi kaya gini"
tak ada jawaban, Ibu Dania masih menangis histeris.
Komentar
Posting Komentar